One night, a thief came to Nasruddin Hoja’s house. The thief entered through a window that had accidentally been left unlocked. Fortunately, Nasruddin Hoja realized that someone had broken into his home.
At that time, Nasruddin Hoja was alone in the house. The thief was carrying a sharp sword. Afraid of being hurt, Nasruddin quickly hid inside a large wooden chest.
After entering the house, the thief carefully looked around to make sure it was safe to carry out his plan. Once he was convinced that no one would stop him, he began searching every corner of the house for valuable possessions.
Although he searched thoroughly and turned the house upside down, the thief could not find anything valuable. Not a single item seemed worth taking. Finally, he noticed a large chest in the corner of the room. He struggled to pull open its heavy lid.
“This chest is incredibly heavy,” the thief muttered. “There must be something very valuable inside.”
But when he finally managed to open it, he was startled.
“Ahhh...!”
To his surprise, he found Nasruddin Hoja hiding inside the chest.
“What are you doing in here?!” shouted the thief while pointing his sword at him.
“I am ashamed,” Nasruddin Hoja replied fearfully.
“Ashamed?!” asked the thief in confusion. “What are you ashamed of?”
“Yes, ashamed,” Nasruddin answered.
“But why?” demanded the thief.
“I am ashamed because I have nothing that you can steal,” said Nasruddin Hoja. “That is why I am hiding here.”
“Ah, it seems I have entered the house of a poor and crazy man!” the thief said in disappointment.
The thief then left Nasruddin Hoja’s house. Nasruddin felt relieved because none of his possessions had been taken.
“Fortunately, that thief did not take my most valuable treasure,” Nasruddin said while holding his head.
For Nasruddin Hoja, the most precious possession he owned was his mind. Everyone knew that his extraordinary wisdom came from his brilliant brain. Therefore, he protected it more carefully than any material wealth.
Terjemahan Bahasa Indonesia
Nasruddin Hoja dan Pencuri
Suatu malam, seorang pencuri datang ke rumah Nasruddin Hoja. Pencuri itu masuk melalui jendela yang tanpa sengaja lupa dikunci. Untungnya, Nasruddin Hoja menyadari bahwa seseorang telah menyusup ke rumahnya.
Saat itu, Nasruddin Hoja sendirian di rumah. Pencuri tersebut membawa sebilah pedang tajam. Takut terluka, Nasruddin segera bersembunyi di dalam sebuah peti kayu besar.
Setelah masuk ke dalam rumah, pencuri itu mengamati keadaan dengan hati-hati untuk memastikan situasi aman bagi aksinya. Setelah yakin tidak ada yang akan menghalanginya, ia mulai menggeledah setiap sudut rumah untuk mencari barang-barang berharga.
Meskipun ia telah mencari dengan teliti dan mengobrak-abrik seluruh rumah, pencuri itu tidak menemukan sesuatu yang berharga. Tidak ada satu barang pun yang layak dibawa. Akhirnya, ia melihat sebuah peti besar di sudut ruangan. Ia berusaha membuka tutup peti yang sangat berat.
“Peti ini sangat berat,” gumam pencuri itu. “Pasti ada sesuatu yang sangat berharga di dalamnya.”
Namun ketika ia akhirnya berhasil membukanya, ia terkejut.
“Ahhh...!”
Betapa terkejutnya ia ketika menemukan Nasruddin Hoja sedang bersembunyi di dalam peti tersebut.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?!” bentak pencuri itu sambil mengarahkan pedangnya.
“Aku malu,” jawab Nasruddin Hoja dengan ketakutan.
“Malu?!” tanya pencuri itu dengan bingung. “Malu karena apa?”
“Ya, malu,” jawab Nasruddin.
“Tapi kenapa?” desak pencuri itu.
“Aku malu karena tidak memiliki apa pun yang bisa kau curi,” kata Nasruddin Hoja. “Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”
“Ah, rupanya aku masuk ke rumah orang miskin dan gila!” kata pencuri itu dengan kecewa.
Kemudian pencuri itu meninggalkan rumah Nasruddin Hoja. Nasruddin merasa lega karena tidak ada satu pun barang miliknya yang dibawa pergi.
“Untung saja pencuri itu tidak mengambil harta paling berhargaku,” kata Nasruddin sambil memegangi kepalanya.
Bagi Nasruddin Hoja, harta yang paling berharga adalah pikirannya. Semua orang tahu bahwa kebijaksanaan luar biasanya berasal dari otaknya yang cemerlang. Karena itu, ia menjaganya lebih hati-hati daripada harta benda apa pun.
15 Kosakata Penting
| Vocabulary | Arti Indonesia |
|---|---|
| Thief | Pencuri |
| Unlocked | Tidak terkunci |
| Fortunately | Untungnya |
| Sword | Pedang |
| Hide | Bersembunyi |
| Chest | Peti |
| Search | Menggeledah / Mencari |
| Valuable | Berharga |
| Possession | Harta benda / Milik |
| Startled | Terkejut |
| Ashamed | Malu |
| Confusion | Kebingungan |
| Disappointment | Kekecewaan |
| Relieved | Lega |
| Wisdom | Kebijaksanaan |
